Total Tayangan Halaman

Senin, 07 November 2011

Perkembangan pada masa bayi

1. Oral
bayi : 0-2 tahun
pada masa ini, bayi akan mengisap apapun benda yang kita berikan kepadanya. pada masa ini pula, bayi secara emosional sudah bisa berekspresi seperti menangis, tertawa. pengajaran yang salah pada waktu bayi akan berdampak pada psikologisnya kelak.

Bayi tidak bisa berbicara karena otot-otot yang menunjang kemampuan berbicara belum terbentuk secara sempurna, pita suaranya juga belum bekerja secara maksimal, tetapi perkembangan kognitifnya sama seperti orang dewasa.

2. Anal (anak-anak awal)

--> usia 3-6 tahun

pada masa ini, mulai ada identifikasi seksual pada kanak-kanak sehingga terbentuk ketertarikan.

Oedipus : suatu penyakit dimana anak laki-laki sangat mencintai ibunya dan tertarik untuk melakukan hubungan seksual dengan ibunya

Eledra : anak perempuan yang tertarik melakukan hubungan seksual dengan ayahnya sendiri 

tri wahyuni ilaihi
1110322004


Jumat, 04 November 2011

emosi

Ternyata pada emosi yang kuat, seringkali terjadi perubahan-perubahan pada tubuh kita, antara lain :
a)      Reaksi elektris pada kulit: meningkat bila terpesona.
b)      Peredaran darah: bertambah cepat bila marah.
c)      Denyut jantung: bertambah cepat bila terkejut.
d)     Pernapasan: bernapas panjang  bila kencang.
e)      Pupl mata: membesar bila sakit atau marah.
f)       Liur: mengering bila takut dan tegang.
g)      Bulu roma: berdiri bila takut.
h)      Pencernaan: diare bila tegang.
i)        Otot: ketegangan dan ketakutan menyebabkan otot menegang dan bergetar (tremor).
j)        Komposisi darah: komposisi darah akan pucat berubah dalam keadaan emosional karena kelenjar-kelenjar lebih aktif. 

Pria dan wanita sebenarnya memiliki kemampuan yang sama untuk merasakan emosi, seperti rasa cinta, bahagia, serta duka. namun wanita lebih mudah untuk memperlihatkan emosi mereka. wanita lebih mudah menangis,  menunjukkan rasa takut, rasa sedih, dan juga ras bersalah.

Dibandingkan pria, wanita lebih sering membecarakan emosi mereka, lebih sering menangis, dan lebih mudah mengakui emosi-emosi yang menunjukan ”kelemahan”, seperti sakit hati, takut, sedih, kesepian, malu dan perasaan bersalah (Grossman dan Wood, 1993; Timmers, Fischer, dan Manstead, 1998). Contoh lainnya pada sisi kognisi, wanita cendrung marah saat merasa pasangan mereka acuh tak acuh terhadapnya, seperti saat pasangan melupakan hari ulang tahun atau hari jadi pernikahan. Sedangkan kemarahan pria lebih sering disebabkan oleh kerusakan barang milik mereka misalnya saat mobil mereka diserempet kendaraan lain atau disebabkan hinaan dari orang lain (Fehr dkk., 1999).